Minggu, 10 Juni 2012

Biografi Imam Ja’far bin Muhammad As-shodiq



 (Imam Ja’far bin Muhammad As-shodiq)
“Abu Bakar Ash-Shiddiq melahirkanku dua kali”


Pada zaman Tabi’in, di mana syariah dan khazanah keilmuan islam masih terjaga, banyak imam dan ulama besar dilahirkan.salah satu ulama yang populer saat itu adalah Al-Imam Ja’far bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib. Sang imam dilahirkan pada masa kekhalifahan Abdul Malik bin Marwan pada tahun 80 H di kota Madinah,  beliau hidup sezaman dengan kakek beliau yaitu Imam Ali Zainal Abidin bin al-Husein ra selama kurang lebih 15 tahun, dan dengan ayahnya al imam Muhammad al Baqir raselama kurang lebih 34 tahun. Beliau  memiliki beberapa gelar terhormat, di antaranya: As-Shabir (sang penyabar),  Al-Fadl(sang utama),  At-Thahir (sang suci). Gelarnya yang paling masyhur adalah As-Shadiq (sang penyampai kebenaran) karena kebenarannya dalam perkataanya.  Ia juga diberi nama ‘Amudusy-Syaraf (tiang kemuliaan). Seluruh gelar tersebut menunjukkan kemuliaan dan keutamaan akhlak beliau.

Beliau biasa dipanggil dengan sebutan Abu Abdullah dan juga dengan panggilan Abu Ismail. Ibu beliau adalah Farwah bintu Qasim bin Muhammad bin Abubakar Ash-Shiddiq. Sedangkan ibu dari Farwah adalah Asma bintu Abdurrahman bin Abubakar Ash-Shiddiq. Oleh karena itu, beliau Al-Imam Ja’far Ash-Shodiq pernah berkata, “Abubakar Ash-Shiddiq telah melahirkanku dua kali.”

Masa belajar dan Kepribadian Beliau

Sedari kecil, beliau telah memperoleh pendidikan agama dari orang tuanya sendiri. Gemblengan keras dari orang tua membuat beliau menjadi sosok yang rajin dan ta’at dalam beribadah serta gemar terhadap ilmu pengetahuanDi saat itu,beliau sempat bertemu dan menimba ilmu dari beberapa shahabat Rasulullah saw. Di antaranya Sahabat Anas bin Malik ra. dan Sahl bin Sa’ad ra. Beliau juga belajar kepada beberapa Ulama besar  seperti : Atha’, Urwah bin al-Zubair bin Awam, Nafi’, Muhammad bin Syihab al-Zuhri, dan ulama-ulama besar lain pada masanya. Selama tinggal di Madinah, beliau menghabiskan waktunya untuk memperdalam berbagai macam ilmu.

Banyak para imam besar yang mempelajari ilmu dari beliau, diantaranya adalah Imam Abu Hanifah, Imam Malik bin Anas, dan Washil bin Atha’ pendiri aliran mu’tazilahYahya bin Sa’id, Ibnu Juraij, Sufyan al-Tsauri, Sufyan bin ‘Uyainah, Syu’bah dan AyyubBeliau dikenal sebagai Ulama, tokoh Sufi, dan Mujtahid di bidang ilmu fiqh bahkan dikalangan fuqoha beliau dianggap pendiri mazhab kelima yakni mazhab fiqh Ja’fariyah, hanya saja tidak ada pernyataan beliau yang terkodifikasi secara khusus dalam memaparkan madzhabnya, sehingga madzhab Ja’fariah tidak boleh diikuti.

Di dalam kitab Tahdzib al-Tahdhib, Jilid 2, hlm. 104, tatkala Imam Malik menceritakan kepribadian Imam Ja'far as-Shadiq r.a, Ia berkata:
" Aku sering mengunjungi as-Shadiq. Aku tidak pernah menemui beliau kecuali dalam tiga keadaan ini: 1) shalat, 2) puasa, 3) membaca kitab suci al-Qur'an. Aku tidak pernah melihat beliau meriwayatkan sebuah hadist Nabi saw kecuali ia dalam keadaan berwudhu’ (suci) . Beliau adalah seorang yang paling bertaqwa, wara’, dan amat terpelajar selepas zaman Nabi Muhammad saw”.

As-Syaikh Muhammad Abdul Karim al-Syahrastani, penulis kitab al-Milal Wa al-Nihal juga memuji pribadi imam Ja’far, ia berkata: "ia adalah seorang yang pakar dalam urusan agama, memiliki budi pekerti yang sempurna dalam dalam hal hikmah, sangat zuhud dalam urusan dunia serta kewaraan yang sempurna dari hal-hal yang menyenangkan  (yang dapat menjerumuskannya ke api neraka”.
 Dan banyak lagi pernyataan ulama tentang pribadi Ja”far as-Shadiq, sebagai salah satu keturunan Nabi saw, yang memiliki dua kemuliaan sekaligus, yaitu kemulian ilmu dan nasab (garis keturunan), hal ini sebagaimana pernyataan al-Bushiri dalam qasidah Burdah

وانسب إلى ذاته ما شئت من شرف () وانسب إلى قدره ما شئت من عظم

Sandarkanlah kepada beliau saw, siapa saja yang engkau kehendaki (yang memiliki garis keturunan, bersambung ke beliau saw)
Dan sandarkanlah kepada kadar kualitas beliau sebagai seorang Nabi, siapa saja yang memiliki kebesaran berupa ilmu

Saksi Sejarah Besar Islam

Beliau Hidup pada akhir masa pemerintahan bani Umayyah dan awal pemerintahan dinasti Abbasiah. Situasi politik di zaman Ja'far As-Shadiq r.a. sangat menguntungkan beliau. Sebab di saat itu terjadi pergolakan politik di antara dua kelompok yaitu Bani Umayyah dan Bani Abbasiah yang saling berebut kekuasaan. Dalam situasi politik yang labil inilah Imam Ja'far As-Shadiq r.a. mampu menyebarkan dakwah Islam dengan lebih leluasa. Dakwah yang dilakukan beliau meluas ke segenap penjuru, sehingga digambarkan murid beliau berjumlah empat ribu orang, yang terdiri dari para ulama, para ahli hukum dan bidang lainnya seperti, Jabir bin Hayyan At-Thusi, seorang ahli matematika, , Sofyan ats-Tsauri, Abu Hanifah (pendiri mazhab Hanafi) al-Qodi As-Sukuni dan lain-lain.
Beliau  menyaksikan kezaliman Bani Umayyah yang justru meruntuhkan kekuasaan mereka sendiri. Sudah banyak rakyat yang berada di bawah kekuasaan Bani Umayyah dan muak melihat kekejaman dan penindasan yang dilakukan mereka selama ini. Situasi yang kacau dan pemerintahan yang mulai goyah dimanfaatkan oleh golongan Abbasiah yang juga bertujuan kepada kekuasaan. Kemudian mereka bergerak dan berkampanye dengan berasaskan sebagai "para penuntut balas dan bani Hasyim. Hal ini sekaligus membukakan  jalan  bagi Bani Abbasiyah yang mengatasnamakan Ahlul Bait untuk mengajak masyarakat  bangkit melawan Bani Umayyah. Bani Umayyah akhirnya tumbang dan Bani Abbasiah mulai mengambil alih tampuk serta merebut kekuasaan dari Bani Umayyah. Kejatuhan Bani Umayyah serta munculnya Bani Abbasiah membawa babak baru dalam sejarah. Selang beberapa waktu ternyata Bani Abbasiah memusuhi malah lebih menumpahkan kebenciannya kepada Ahlul Bait dan membunuh pengikutnya. Imam Ja'far r.a. hidup di bawah pemerintahan Bani Umayyah kurang-lebih 40 tahun, dan hidup pada masa pemerintahan Abbasiyah sekitar 20 tahun. Selama itu, ia menghindar dari kehidupan politik. Kehidupan sehari-harinya lebih banyak dihabiskan dengan mengajar dan beribadah.

Hubungan beliau dengan SYI’AH?

Imam Ja’far as-Shadiq dikenal selama ini sebagai imam ke 6 dari 12 imam syiah yang dianggap ma’shum oleh kaum syiah. Padahal, beliau sendiri menyangkal keterlibatan beliau dan berlepas tangan dari aliran syi’ah.
Diceritakan dari Abdul Mun’im bin Yahya az-Zuhri bahwaimam Ja’far as-Shadiq r.a mendatangi sekelompok orang yang ingin bepergian dari kota Madinah, maka beliau berkata:“kalian insya Allah termasuk orang- orang yang sholeh dari penduduk kota kalian, maka sampaikanlah kepada mereka dariku, barang siapa yang menyangka bahwasanya aku ma’shum( terjaga dari perbuatan dosa), maka aku terbebas dari perkataan tersebut, barang siapa yang menyangka aku berlepas tangan dari s Abu Bakar r.a dan s Umar r.a, maka aku terbebas dari sangkaan tersebut.”
Diriwayakan dari Muhammad bin Fudhail, bahwa suatu hariSalim bin Hafshah (salah seorang ulama syiah) bertanya kepada imam Muhammad al Baqir dan anak beliau imam Ja’far as-Shadiq tentang khalifah Abu Bakar dan khalifah Umar bin Khathtab, maka mereka berkata : “wahai salim, akuilah keduanya sebagai khalifah, dan berlepas tanganlah dari musuh-musuh mereka.  sesungguhnya mereka adalah imam imam yang diberi petunjuk.” Kemudian imam Ja’far berkata:“wahai Salim, apakah pantas bagi seseorang mencela kakeknya sendiri, s Abu Bakar adalah kakekku, tidak akan sampai kepadaku syafaat Nabi Muhammad SAW pada hari kiamat apabila aku tidak mengakui kekhalifahan mereka dan berlepas tangan dari musuh-musuh mereka.”
Dari dua riwayat diatas dapatlah diambil kesimpulan bahwasanya beliau bukanlah Syiah tetapi diSyiahkan oleh para pengikutnya. Beliau sendiri menyangkal keterlibatan beliau dengan syiah yang telah mencela dan menyerang khalifah Abu Bakar dan Umar. Beliau juga menolak klaim syi’ah yang menganggap beliau sebagai imam dan meyakini kema’shuman beliau yang mana ma’shum adalah salah satu keistimewaan yang hanya dimiliki para Nabi dan Rasul.

Akhir hayat beliau

Imam dan ulama besar ini meninggal di kota Madinah pada malam Senin, pertengahan bulan Rajab, tahun 148 H dalam usia kurang lebih 68 tahun. Beliau meninggal karena diracun oleh Manshur ad Dawaniqi yang tidak senang terhadap pengaruh imam Ja’far as-Shodiq yang terlihat begitu besar di mata masyarakat dan dianggap bisa membahayakan kekuasaaanya. Di antara kata mutiara beliau yang sampai kepada kita adalah : “???
Jasad mulia beliau disemayamkan di pekuburan Baqi’ di dalam qubah Al-Abbas, dekat dengan makam ayahnya, kakeknya dan paman kakeknya Hasan bin Ali. Beliau meninggalkan lima orang putra, yaitu Muhammad, Ismail, Abdullah, Musa dan Ali Al-’Uraidhi (kakek daripada keluarga Ba’alawy). Beliau wafat setelah meninggalkan banyak jasa besar untuk islam dan meneruskan perjuangan kakek beliau Rasulullah saw. Radhiyallahu ‘anhum ajma’in.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar